Lo tahu nggak rasanya: buka TikTok, liat anak muda senyum-senyut di depan batu nisan. Caption-nya: “RIP bestie, you’ll never guess where I am right now 💀”. Kedengerannya aneh, kan? Tapi ini nyata. Dan lagi viral banget.
Gue juga awalnya mikir, “Ini udah terlalu jauh”.
Tapi makin gue dalemin, makin gue sadar: bukan soal menghina atau tidak. Tapi soal pergeseran makna kematian di era digital: dari hal yang sakral dan privat, menjadi tontonan publik untuk mengejar engagement.
Fenomena grave aesthetic ini bikin perdebatan panas di mana-mana. Ada yang bilang “itu bentuk penghormatan modern”. Ada yang bilang “itu tidak sopan, nggak tau diri”. Tapi di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih besar: *kenapa sih kita ngerasa perlu mendokumentasikan segala hal, termasuk kematian?
Gue breakdown fenomena ini. Dari akar masalahnya, sampai dampaknya ke cara kita memandang hidup dan mati.
Grave Aesthetic Itu Apa? (Biar Lo Nggak Cuma Ikut-ikutan)
Jadi gini. Grave aesthetic adalah tren di mana orang—kebanyakan Gen Z—mengambil foto atau video di area pemakaman, lalu mengunggahnya ke media sosial. Nggak cuma sekadar foto dokumentasi. Tapi dipoles biar keliatan estetik. Filter tertentu. Caption puitis. Kadang pose ceria, kadang moody.
Fenomena ini bukan cuma selfie di makam artis atau tokoh terkenal. Tapi juga foto di kuburan biasa, dengan gaya yang sengaja dibuat instagramable .
Di luar negeri, bahkan ada sub-kultur namanya #Gravetok di TikTok. Kontennya mulai dari “cleaning abandoned graves” (bersihin kuburan terbengkalai) sampai eksplorasi pemakaman tua dengan narasi aesthetic .
Yang lebih gila: ada yang bikin kuburan palsu buat mantan pacar sebagai bentuk terapi . Iya, beneran. Bikin nisan pake nama mantan, lengkap dengan tulisan “Here lies all the boys who did us wrong”. Ini bukan lelucon. Ini tren yang beneran ada.
Di Indonesia, kasus selfie di makam artis kayak Eril (putra Ridwan Kamil) dan BJ Habibie sempat viral dan dikritik habis-habisan . Tapi faktanya, praktik ini udah ada sejak lama. Bahkan sejak 2013, seorang editor dari Brooklyn bikin galeri “Selfies at Serious Places” di Tumblr, yang isinya foto-foto remaja berpose di Auschwitz, di pemakaman, bahkan di depan peti mati nenek mereka sendiri .
Jadi, ini bukan tren baru. Tapi intensitasnya makin meningkat karena media sosial makin mendominasi hidup kita.
Kematian di Era Digital: Dari Sakral ke Sekuler
Dalam budaya Indonesia, kematian selalu ditempatkan sebagai peristiwa sakral yang menuntut keheningan, hormat, dan doa . Koentjaraningrat, dalam Kebudayaan Jawa (1984), menegaskan bahwa ritus kematian di Nusantara berfungsi menjaga keseimbangan sosial dan spiritual masyarakat. Contohnya jelas: suara dipelankan, gerak dibatasi, dan kata-kata dijaga agar tidak melukai keluarga yang berduka .
Dalam kerangka budaya ini, pemakaman adalah ruang privat sekaligus komunal yang memiliki etika tersendiri. Privat karena menyangkut kehilangan paling personal. Komunal karena masyarakat hadir memberi dukungan moral. Karena itu, ada batas yang tidak boleh dilanggar. Tidak semua momen boleh direkam. Tidak semua ekspresi duka pantas disebarluaskan .
Tapi media sosial telah mengubah cara pandang itu. Budaya berbagi yang serba cepat sering kali menggeser rasa hormat menjadi sekadar kebiasaan unggah . Clifford Geertz, dalam The Interpretation of Cultures (1973), mengingatkan bahwa makna simbolik dalam ritus bisa terkikis ketika dilepaskan dari konteksnya .
Dulu, kematian adalah hal yang hard and serious—seperti yang ditulis Saul Bellow: “the dark backing to the mirror” . Tapi sekarang? Kematian jadi konten. Jadi latar. Jadi aesthetic.
Dan ironinya: kita nggak sadar bahwa proses ini mengikis kemampuan kita untuk beneran berduka. Sebuah studi tahun 2013 bahkan menunjukkan bahwa ketika kita memotret sesuatu, kita cenderung kurang mengingatnya . Psikolog Dr. Linda Henkel menyebutnya “photo-taking impairment effect”—ketika kita terlalu bergantung pada kamera untuk “mengingat” untuk kita, dampaknya negatif pada bagaimana kita mengingat pengalaman .
Artinya? Makin banyak kita motret pemakaman, makin kita lupa esensi dari pemakaman itu sendiri.
Kenapa Gen Z Melakukan Ini? (Bukan Cari Sensasi Doang)
Gue nggak mau menjudge begitu aja. Ada beberapa alasan kenapa tren ini muncul:
1. Kematian Jadi “Eksotis”
Bagi sebagian Gen Z, kuburan adalah tempat yang jarang dikunjungi. Asing. Misterius. Dan di era di mana semua tempat udah difoto (kafe, mal, pantai), kuburan jadi “spot baru” yang belum banyak dieksplor. Eksotis, istilahnya.
Apalagi ditambah aesthetic yang moody. Nisan-nisan tua. Kabut tipis. Pepohonan rindang. Itu bahan konten yang empuk.
2. Ekspresi Diri yang Nggak Bisa Diungkapin Kata-kata
Jason Feifer, pembuat galeri “Selfies at Serious Places”, punya pandangan menarik. Dia menolak menghakimi anak muda yang melakukan ini. Menurutnya, “When a teen tweets out a funeral selfie, their friends understand that [they] are expressing an emotion they may not have words for. It’s a visual language that older people simply don’t speak” .
Artinya? Bagi sebagian anak muda, selfie di pemakaman adalah cara mereka memproses kematian. Bukan karena mereka nggak hormat. Tapi karena mereka nggak punya kosakata untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Dan media sosial jadi bahasa visual mereka.
Gue ngerti sih. Tapi tetep aja—ada batasan.
3. Tekanan untuk Selasa Kelihatan “Hidup”
Fenomena grave aesthetic ini nggak bisa dipisahkan dari tekanan media sosial secara umum. Di era di mana eksistensi seseorang diukur dari jumlah like dan view, orang rela melakukan apa pun biar feed-nya keliatan keren .
Ukuran sukses sekarang bukan lagi kerja keras atau pencapaian. Tapi soal bagaimana kamu bisa membuat hidupmu terlihat sukses di internet .
Dan kalau konten di kuburan bisa dapet 100k views? Ya udah, orang akan lakuin. Nggak peduli etis atau nggak.
Ini sisi gelap dari influencer culture: engagement di atas segalanya. Termasuk di atas kesakralan kematian.
Dampak Grave Aesthetic: Dari Duka Jadi Tontonan
Fenomena ini bukan tanpa konsekuensi. Ada dampak nyata yang perlu kita sadari:
1. Menyakiti Keluarga yang Berduka
Ini paling jelas. Ketika foto atau video pemakaman keluarga lo tersebar di medsos tanpa izin, rasanya sakit. Apalagi kalau kontennya dibuat ringan, dengan pose senyum atau caption receh.
Contohnya pas pemakaman Eril. Ada video tiga ibu-ibu selfie di depan makam dengan ekspresi senang. Warganet geram. Mereka bilang: “Sedih melihatnya… menurut saya kurang pantas apabila berselfie ria di depan makam dengan ekspresi semacam itu” .
Apakah mereka berniat jahat? Mungkin nggak. Mungkin mereka cuba “mengenang”. Tapi dampaknya ke keluarga yang berduka? Jelas menyakitkan.
2. Mengaburkan Batas Privat-Publik
Ruang digital telah membuat batas antara privat dan publik semakin kabur. Peristiwa yang dahulu dijaga dalam lingkar keluarga kini mudah berpindah ke linimasa publik hanya dengan satu sentuhan layar .
Dalam konteks kematian, kaburnya batas ini terlihat ketika foto jenazah, suasana pemakaman, atau ekspresi duka keluarga dibagikan tanpa pertimbangan etis .
Erving Goffman, dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1959), menjelaskan bagaimana manusia membangun “panggung” dalam kehidupan sosial untuk menampilkan diri. Di media sosial, panggung itu sering dipakai untuk menampilkan kepedulian, meski dampaknya bagi orang yang berduka tidak selalu dipikirkan .
Hasilnya? Empati performatif—kepedulian yang dipamerkan, bukan dirasakan. Ngeri.
3. Mengubah Makna Kematian Itu Sendiri
Penelitian tentang budaya kematian di era digital menunjukkan bahwa saat ini kematian tidak hanya dipahami sebagai sebuah proses, tetapi kemudian muncul sebuah ketertarikan, aktivitas konsumsi, aktivitas mencari tahu, obsesi hingga kesenangan yang dapat disebabkan oleh kematian .
Di forum-forum online, fenomena ini ditandai dengan aktivitas mengunggah foto kematian, menonton, berkomentar hingga menertawakan sebuah potret kematian yang sebelumnya dianggap sebagai hal yang sakral .
Kita perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk merasa ngeri melihat kematian. Kematian jadi hiburan. Dan itu masalah besar.
Common Mistakes Gen Z Soal Grave Aesthetic (Biar Lo Nggak Kena Kecaman)
Dari berbagai kasus dan perdebatan, ini kesalahan yang bikin lo dikritik habis-habisan:
1. Pose Senyum di Depan Makam Orang yang Nggak Lo Kenal
Ini paling fatal. Lo selfie di makam artis atau tokoh terkenal, lalu lo senyum. Keluarga mereka bisa liat. Mereka bisa sakit hati.
Solusi: kalau lo nggak kenal almarhum, jangan selfie dengan ekspresi gembira. Kalau mau foto, lakukan dengan hormat—pose tenang, ekspresi netral, dan utamakan mendoakan, bukan pamer.
2. Lupa Minta Izin Keluarga
Lo foto di pemakaman umum. Lo kira nggak masalah. Tapi ternyata ada keluarga almarhum yang nggak terima.
Solusi: kalau lo nggak yakin, jangan unggah. Kalau nggak tahan, setidaknya blur wajah orang lain yang nggak sengaja kejepret.
3. Caption Receh yang Nggak Sensitif
Caption kayak “RIP bestie, you’ll never guess where I am right now” itu nggak lucu. Itu menyakitkan.
Solusi: kalau lo nggak bisa diam, setidaknya jaga etika. Gunakan caption yang netral atau reflektif. Bukan yang nge-gas.
4. Nggak Niat Ziarah, Cari Konten Doang
Ini paling disorot. Lo dateng ke pemakaman bukan buat mendoakan, tapi buat cari angle dan cahaya terbaik. Itu nggak etis.
Solusi: prioritasin niat ziarah dulu. Doakan almarhum. Setelah itu, kalau lo masih pengen foto, lakukan dengan hormat. Jangan sampe niat utama lo kesasar.
5. Lupa Bahwa Media Sosial Itu Publik
Lo kira foto lo cuma diliat temen-temen deket. Tapi ternyata bisa viral. Bisa diliat keluarga almarhum. Bisa diliat orang yang nggak lo kenal. Solusi: anggap setiap unggahan lo bisa diliat semua orang. Kalau lo nggak berani nunjukkin ke keluarga almarhum langsung, jangan unggah.
Etika Berbagi Duka di Era Digital
Jadi, bagaimana seharusnya kita menyikapi ini? Apakah kita harus stop total dokumentasi di pemakaman? Nggak juga.
Hans Jonas, dalam The Imperative of Responsibility (1979), menekankan etika tanggung jawab, yakni kewajiban memikirkan dampak tindakan kita terhadap orang lain .
Dalam konteks ini, ada prinsip sederhana yang bisa lo pegang:
1. Minta Izin Dulu
Kalau lo mau motret atau ngerekam di pemakaman, tanya dulu ke keluarga yang berduka. “Bu, saya boleh motret nggak? Buat kenang-kenangan pribadi.” Kalau mereka nggak setuju, hargai.
2. Jaga Ekspresi dan Sikap
Jangan tersenyum lebar di depan makam. Jangan berpose “cekrek”. Tunjukkan hormat melalui ekspresi dan bahasa tubuh lo.
3. Pikirkan Ulang Sebelum Unggah
Kalau lo nggak yakin, tahan dulu. Tanya ke diri lo: “Apakah ini beneran perlu diunggah? Atau cukup disimpan sebagai kenangan pribadi?”
4. Utamakan Doa, Bukan Dokumentasi
Inget, tujuan utama datang ke pemakaman adalah mendoakan almarhum, bukan mengabadikan momen . Prioritasin itu. Dokumentasi adalah bonus, bukan inti.
5. Hormati Privasi Orang Lain
Kalau di foto lo ada orang lain yang sedang berduka, jangan unggah. Atau setidaknya blur wajah mereka. Mereka nggak minta jadi konten.
Masa Depan: Dari Tontonan Kembali ke Kesakralan?
Tren grave aesthetic nggak akan hilang. Selama media sosial masih ada, selama engagement masih diperjuangkan, selama orang masih haus konten unik, fenomena ini akan tetap ada.
Tapi bukan berarti kita menyerah.
Kita bisa mulai dari hal kecil: ngajarin adik, teman, atau diri sendiri untuk lebih hormat. Mengingatkan bahwa nggak semua momen pantas diunggah. Menyadari bahwa privasi orang yang berduka itu sama pentingnya dengan kebutuhan kita untuk eksis di medsos.
Karena pada akhirnya, kematian adalah hal yang paling personal. Dan kita, sebagai manusia, berhak untuk berduka dengan cara kita sendiri—tanpa harus dijadikan tontonan.
Jadi… Lo Akan Tetap Selfie di Pemakaman?
Lo lagi baca artikel ini. Mungkin sambil ngebayangin kapan terakhir lo ke kuburan. Atau sambil nge-scroll feed Instagram yang penuh konten aesthetic.
Gue nggak bisa larang lo. Tapi gue kasih tiga pertanyaan sebelum lo angkat HP di pemakaman:
- “Apakah almarhum atau keluarganya setuju foto ini diunggah ke publik?”
- “Apakah niat lo ke sini beneran buat mendoakan, atau cuma buat konten?”
- “Apakah lo siap menerima konsekuensi kalau foto lo viral dan dikritik habis-habisan?”
Kalau jawaban lo nggak tegas buat salah satu, mungkin lo harus simpen HP di saku. Setidaknya sampai lo keluar dari area pemakaman.
Karena pada akhirnya, menghormati kematian adalah tanda bahwa kita masih punya kemanusiaan. Dan itu, nggak bisa dibeli dengan like atau views.
Sekarang gue mau tanya: terakhir kali lo ke kuburan, lo ngapain? Mendoakan? Atau cari angle?
Jawab jujur. Dan kalau lo masih punya orang tua atau kakek nenek yang masih hidup, manfaatin waktu lo buat ngurus mereka sekarang. Bukan nanti pas mereka udah nggak ada, baru lo selfie di makam mereka.