Pernah nggak sih, lo ngerasa bersalah banget pas minggu lalu nggak ngapa-ngapain? Padahal lo udah kerja keras Senin-Jumat. Tapi pas Sabtu pagi, lo bangun, dan pikiran pertama lo: “Gue harus produktif hari ini.”
Gue pernah. Dan gue yakin lo juga.
Di 2026, fenomena ini makin meluas. Sebuah laporan dari DHR Global nyebutin angka yang bikin merinding: 83% pekerja masih ngerasa burnout, dan tingkat engagement karyawan turun drastis dari 88% di 2025 jadi cuma 64% di 2026 . Kita makin lelah, tapi makin nggak bisa berhenti.
Kenapa? Karena kita dibesarkan dengan dogma: kalau nggak produktif, lo gagal.
Tapi sekarang, mulai ada gerakan perlawanan. Namanya anti-optimasi. Bukan malas. Bukan anti-kerja. Tapi penolakan terhadap obsesi efisiensi yang udah berubah jadi penjara kognitif.
Obsesi Efisiensi Sebagai Penjara Kognitif
Gue mau kasih analogi sederhana. Bayangin lo punya anjing yang dilatih mati-matian buat duduk, diam, dan nggak boleh bergerak tanpa perintah. Tapi suatu hari, lo sadar: anjing itu nggak bahagia. Dia cuma patuh.
Itulah kita. Kita dilatih untuk terus produktif. Kita pake teknik Pomodoro, kita bagi waktu dalam slot 15 menitan, kita ukur setiap aktivitas dengan metrik “bermanfaat atau nggak?” . Dan kita bangga dengan itu.
Tapi ada harga yang harus dibayar. Toxic productivity—istilah yang mulai dikenal sejak beberapa tahun lalu—adalah dorongan tidak sehat untuk terus produktif setiap saat, dengan cara apa pun . Ciri-cirinya? Lo merasa bersalah pas istirahat. Lo nggak pernah puas sama hasil kerja lo. Lo nganggep waktu luang sebagai “kemalasan” .
Ini bukan produktivitas. Ini penjara.
Analis tren dari Lux Research bahkan nyebut 2026 sebagai tahun “backlash against optimization culture” . Konsumen dan pekerja mulai muak sama hal-hal yang terasa artificial, performative, atau overly optimized . Mereka mulai nyari sesuatu yang terasa real dan human .
Contoh Nyata: Ketika ‘Berantakan’ Jadi Pilihan
1. Anak Muda yang Pilih “Karir Lambat”
Gue kenal seorang desainer grafis, umur 27 tahun. Dulu dia ambil semua proyek. Hustle 24/7. Sampai suatu hari dia nge-drop semua klien tetap dan cuma ambil proyek yang nggak masuk akal—yang nggak jelas brief-nya, yang katanya “buang-buang waktu”. Dia bilang: “Gue capek jadi mesin. Gue pengen berantakan dikit.”
Ini bukan kasus langka. Laporan DHR Global nunjukin hampir setengah pekerja (48%) nyebut beban kerja berlebihan sebagai penyebab utama burnout . Bukan gaji. Bukan kurangnya apresiasi. Tapi terlalu banyak.
Mereka mulai milih kurang—kurang target, kurang proyek, kurang tekanan—demi lebih banyak ruang bernapas.
2. Perusahaan yang Mulai “Slow Down”
Beberapa perusahaan di Eropa mulai eksperimen dengan 4-day workweek. Bukan karena pengen lebih produktif, tapi karena sadar: karyawan yang burnout nggak menghasilkan apa-apa selain angka di laporan tahunan.
Di SHRM State of the Workplace 2026, disebutin bahwa employee experience (termasuk well-being dan engagement) jadi prioritas utama . Ada gap besar antara perusahaan yang mendukung karyawan dan yang nggak. Yang mendukung? 77% karyawan bilang mereka nggak akan keluar. Yang nggak? Hanya 44% yang puas .
Ini bukan tren. Ini perubahan struktural.
3. The “Rawdogging” Movement
Lo mungkin pernah denger istilah ini: rawdogging—aktivitas yang sengaja nggak punya tujuan. Di dunia nyetir, itu artinya nyetir tanpa navigasi, tanpa musik, tanpa podcast. Cuma lo, mobil, dan jalan. Di dunia kerja, artinya ngerjain sesuatu tanpa target.
Gue lihat ini makin banyak di kalangan kreatif. Mereka sengaja nggak nentuin output. Nggak pake timer. Nggak pake to-do list. Cuma ngerjain—tanpa harus selesai. Ini bentuk perlawanan terhadap efisiensi yang mematikan.
Data: Kita Lagi Sakit, dan Kita Tahu
- 83% pekerja ngerasa burnout di 2026 .
- Engagement turun dari 88% ke 64% dalam setahun .
- 72% HR profesional setuju bahwa pekerja sekarang punya ekspektasi lebih tinggi ke perusahaan .
- 71% karyawan nyebut learning & growth—bukan gaji atau remote work—sebagai faktor utama engagement .
Angka-angka ini ngomong satu hal: kita muak.
Kita muak dengan rutinitas yang nggak pernah berakhir. Muak dengan target yang terus naik. Muak dengan hustle culture yang dirayakan padahal perlahan membunuh.
Psikolog bahkan nge-link ini dengan krisis eksistensial—ketika kita mempertanyakan makna dari semua kerja keras ini . “Kenapa gue begini?” “Apa sih tujuan gue?” Pertanyaan-pertanyaan yang muncul bukan karena kita malas, tapi karena kita capek.
Panduan Praktis: Memulai Hidup yang ‘Berantakan’
Lo nggak harus langsung buang semua jadwal. Coba hal-hal kecil dulu:
- Hapus satu slot “produktif” per minggu. Minggu ini, lo punya jadwal buat belajar skill baru? Hapus. Ganti dengan nggak ngapa-ngapain. Duduk di teras. Lihatin orang lewat. Nggak usah difoto.
- Coba “raw hour”. Satu jam sehari tanpa input: tanpa HP, tanpa musik, tanpa baca apa pun. Cuma keheningan. Ini lebih sulit dari kedengerannya.
- Buang to-do list. Iya, beneran. Buang. Ganti dengan “done list”—tulis apa yang udah lo kerjain, bukan apa yang harus lo kerjain. Ini ngurangin anxiety karena lo fokus ke progres, bukan kekurangan.
- Izinkan diri lo gagal. Seringkali kita takut nggak mencapai target, makanya kita paksain diri. Coba: tetapkan satu target per hari yang sengaja nggak mungkin dicapai. Trus, santai aja pas nggak nyampe. Rasain: dunia nggak kiamat.
- Temukan “berantakan” yang menyenangkan. Bisa apa aja: melukis tanpa tujuan, nulis tanpa struktur, jalan tanpa rute. Aktivitas yang nggak punya “output”. Ini yang disebut play, dan orang dewasa lupa caranya.
Kesalahan Umum Saat ‘Anti-Optimasi’
- Menganggap anti-optimasi = malas. Bukan. Ini tentang memilih kapan lo mau efisien dan kapan lo mau hidup. Produktivitas masih penting. Tapi nggak harus 24/7.
- Terlalu ekstrem. Buang semua jadwal, stop kerja seminggu, trus panik. Ini cuma bikin lo balik ke pola lama. Anti-optimasi itu gradual—pelan-pelan, sadar, dan tanpa paksaan.
- Membandingkan dengan orang lain. Lo lihat temen lo masih hustle? Biarin. Ini bukan kompetisi. Ini tentang lo dan kesehatan lo.
- Menganggap ini cuma ‘tren’. Ini bukan tren. Ini respons terhadap krisis. 83% burnout bukan angka main-main . Ini darurat.
Kegagalan Adalah Bentuk Kebebasan
Gue mau tutup dengan satu hal.
Selama ini kita diajarin kalau gagal itu buruk. Kalau nggak mencapai target, kita kurang. Kalau istirahat, kita malas. Ini narasi yang dikonstruksi—dan narasi ini menguntungkan mereka yang butuh kita tetap jadi mesin.
Tapi kegagalan adalah bentuk kebebasan.
Ketika lo gagal mencapai target, lo sadar: target itu nggak punya kuasa atas lo. Ketika lo istirahat dan nggak terjadi apa-apa, lo sadar: dunia nggak berhenti berputar. Dan ketika lo memilih berantakan—nggak terstruktur, nggak efisien, nggak produktif—lo sadar: lo masih punya pilihan.
Dan di 2026, pilihan itu lebih berharga dari apapun.