Lifestyle September 2026: 7 Tren Hidup yang Mulai Ditinggalkan Gen Z demi Hidup Lebih Tenang

Lifestyle September 2026: 7 Tren Hidup yang Mulai Ditinggalkan Gen Z demi Hidup Lebih Tenang

Pernah nggak sih, lo ngerasa capek sendiri karena harus selalu update tren, selalu online, selalu sibuk—tapi ujung-ujungnya kosong?

Gue banget. Dan ternyata, banyak Gen Z lain yang mulai ngerasa hal yang sama. Di 2026 ini, perubahan besar terjadi: anak muda mulai ninggalin kebiasaan-kebiasaan yang bikin mereka capek, demi hidup yang lebih tenang. Bukan berarti jadi malas atau nggak produktif—ini tentang memilih pertarungan yang lebih bermakna.

Mari kita bahas 7 tren yang mulai ditinggalkan.


1. Hustle Culture: Dari “Gila Kerja” ke “Soft Life”

Dulu, hustle culture—gaya hidup yang memuja kesibukan tanpa henti—dianggap keren. Semakin sibuk, semakin sukses. Sekarang? Banyak Gen Z yang mulai muak. Mereka milih soft life: gaya hidup yang menekankan keseimbangan, kesehatan mental, dan menikmati momen .

Ini bukan soal malas atau menghindari ambisi. Ini tentang mendefinisikan ulang kesuksesan—bekerja dengan tujuan, bukan cuma demi gaji atau status . Menurut Glassdoor, 68% Gen Z cuma mau ambil posisi manajemen kalo beneran worth it, dan 72% lebih milih jadi individual contributor daripada ngurusin tim .

Dampaknya? Career minimalism mulai naik daun—orang pilih karir yang selaras sama nilai pribadi dan kesehatan mental, bukan cuma ngejar posisi .


2. FOMO (Fear of Missing Out): Diganti JOMO (Joy of Missing Out)

Dulu kita takut ketinggalan tren, ketinggalan acara, ketinggalan postingan. Sekarang? Anak muda justru mulai merayakan momen melewatkan.

Gerakan digital detox dan “offline life” mulai populer . Banyak yang sengaja kurangi screen time, bahkan ada yang balik pake HP jadul (flip phone) demi ketenangan . Brooke Williams, 22 tahun, kurangi screen time dari 9 jam jadi 20 menit sehari—dan ngerasa pikiran lebih jernih .

Ini bukan anti-teknologi, tapi tentang mengatur ulang hubungan sama gawai .


3. Konsumerisme Berlebihan: Dari “Haul Culture” ke “Underconsumption Core”

Dulu, tren di TikTok adalah pamer belanjaan (haul culture). Sekarang? Kebalikannya. Gen Z mulai romantisisasi underconsumption core—gaya hidup minimalis, beli lebih sedikit, pake barang lebih lama .

Videonya biasanya tenang: ruangan rapi, barang-barang yang dipake bertahun-tahun, dan narasi “kamu nggak perlu beli yang baru” . Ini counter-movement dari hyper-consumerism yang didorong media sosial. Ada juga tren “de-influencing”—konten kreator yang ngasih tau produk apa yang nggak worth it .


4. Fast Fashion dan Logo Mencolok: Ke “Silent Luxury” dan “Polyester” Sebagai Insult

Anak muda sekarang mulai jijik sama baju bermerek mencolok. Ganti dengan silent luxury: pakaian warna netral, desain minimalis, bahan berkualitas tinggi—tanpa logo besar .

Bahkan, kata “polyester” sekarang jadi hinaan di TikTok. Dipake buat ngejek sesuatu yang murah, murahan, atau nggak autentik—mulai dari kualitas baju, konten, sampe gaya hidup . Ini bukan sekadar tren fashion—ini soal penolakan terhadap hal-hal “murah” dalam arti terdalam.


5. Social Media sebagai Identitas: Ke “Offline” sebagai Simbol Status

Dulu, eksis di media sosial itu penting. Sekarang? Menghilang dari layar justru dianggap lebih keren .

Gen Z mulai tutup akun, kosongin Instagram, dan tolak algoritma. Bukan karena malu, tapi karena “digital minimalism” dianggap sebagai bentuk kendali diri . Merek kayak Bottega Veneta bahkan hapus akun Instagram mereka dan beralih ke majalah fisik . The Row juga melarang tamu fashion show mereka pake HP—semua harus hadir secara fisik dan sadar .

Ini bukan cuma detox—ini pernyataan.


6. Overthinking dan Perfectionism: Ke “Balansheim” dan “Now-in-Power”

Orang Korea punya istilah “Balansheim” —gaya hidup yang nggak cuma istirahat, tapi aktif ngatur keseimbangan tubuh dan pikiran . Bukan cuma “rebahan”, tapi istirahat yang disadari.

Juga ada “Now-in-Power” —nge-post tentang proses, bukan hasil akhir. Gen Z lebih suka nunjukkin perjuangan, kegagalan, dan pertumbuhan, daripada cuma pamer kesuksesan .

Perfectionism ditinggal. Mereka milih autentikasi dan dokumentasi proses.


7. Multitasking dan Tanpa Jeda: Ke Slow Living dan Mindful Eating

Kebiasaan “serba cepat”—makan sambil scroll, kerja sambil nonton, tidur larut—mulai ditinggal. Ganti dengan slow living .

Sekarang, anak muda lebih milih makan tanpa gadget, nikmatin satu aktivitas dalam satu waktu, dan kasih jeda di antara tugas . Nutrisionis bilang ini bikin pencernaan lebih baik; praktisi kesehatan bilang ini bikin otak lebih segar .

Slow living bukan kemalasan—ini tentang kesadaran dalam setiap tindakan.


Tips Praktis: Gimana Mulai?

  1. Mulai dari yang kecil. Kurangi screen time 1 jam sehari, atau matiin notifikasi yang nggak penting.
  2. Coba “analogue bag”. Bawa buku, jurnal, atau kartu mainan buat ngisi waktu tanpa HP .
  3. Jangan ikut semua tren. Pilih yang beneran cocok sama lo—bukan karena FOMO.
  4. Beri diri lo waktu. Slow living butuh adaptasi. Nggak harus langsung sempurna.

Kesalahan Umum yang Sering Dilakuin

  1. Mengira slow living = malas. Salah. Ini tentang kualitas, bukan kuantitas .
  2. Langsung ekstrem. Digital detox total seminggu? Bisa gagal. Mulai dari satu hari .
  3. Terlalu kaku. Nggak semua tren harus lo ikutin—termasuk tren “meninggalkan tren”. Sesuaikan sama kebutuhan lo.
  4. Lupa sama realita finansial. Soft life butuh stabilitas finansial—jangan sampe utang demi gaya hidup .

Penutup: Hidup Tenang Itu Pilihan

Lifestyle September 2026 bukan tentang berhenti jadi produktif. Ini tentang memilih hidup dengan lebih sadar. Gen Z mulai sadar: nggak semua hal harus diikutin, nggak semua notifikasi harus dibales, dan nggak semua tren harus dibeli.

Tren-tren yang ditinggal ini bukan berarti “salah”—mereka cuma nggak lagi relevan buat banyak orang. Kalo lo ngerasa salah satu kebiasaan di atas masih cocok, lanjutin aja. Tapi kalo lo mulai capek—mungkin ini saatnya buat ganti.

Gue sih udah mulai bawa buku ke mana-mana, kurangi screen time, dan lebih pilih barang berkualitas daripada banyak. Rasanya? Lebih tenang. Lo gimana?