Lo buka TikTok malem-malem. Tiba-tiba muncul video seorang cewek dengan lighting temaram, musik sendu, wajah sendu, dan teks: “POV: Kamu lagi nangis jam 2 pagi mikirin dia.”
Dia nangis. Beneran nangis. Air mata jatuh, make-up luntur dikit, lighting bikin dramatis. Caption: “Kenapa hidup harus sesakit ini?”
Video itu 500 ribu views, 50 ribu likes, ribuan komentar: “SAME BESTIE”, “I feel you”, “kenapa kita selalu yang disakiti?”
Besoknya, dia upload video lagi. Masih tema galau. Still nangis. Lighting masih aesthetic. Views 300 ribu.
Seminggu kemudian, dia ikutan challenge “sad girl makeup” dan “sad girl playlist”. Engagement naik. Endorse produk skincare buat “nangis tapi kulit tetep glowing”. Cuan.
Lo mikir: Dia nangis beneran nggak sih? Atau ini konten?
Ini fenomena yang lagi viral banget di TikTok. #SadGirlLifestyle udah ditonton milyaran kali. Ribuan konten kreator, kebanyakan cewek Gen Z, pada bikin konten tentang kesedihan, depresi, patah hati, dan air mata. Dengan gaya aesthetic. Dengan musik sendu. Dengan caption puitis.
Yang bikin gue mikir: apakah mereka beneran sedih? Atau kesedihan udah jadi komoditas?
Gue ngobrol sama 3 kreator konten “sad girl” yang cuan dari air mata, 1 psikolog yang khawatir sama tren ini, dan 1 pengamat media sosial. Hasilnya? Bikin gue sedih. Tapi sedih yang… nggak aesthetic.
Kasus #1: Sasa (21, Kreator Konten Sad Girl) — “Gue Nangis Tiap Malam, Dapet 50 Juta Sebulan”
Sasa punya akun TikTok dengan 800 ribu followers. Kontennya: nangis. Galau. Curhat. POV sedih. Semua tentang kesedihan.
“Awalnya gue beneran sedih. Putus cinta, nangis beneran, gue rekam iseng. Upload. Eh viral. 2 juta views. Orang pada komen ‘I feel you’, ‘sama bestie’, ‘kok lo bisa nangis secantik itu’.”
Sasa kaget. Tapi juga seneng.
“Dari situ gue sadar: orang suka liat orang sedih. Mungkin karena mereka juga sedih. Atau karena mereka ngerasa nggak sendiri. Gue mulai rutin bikin konten galau.”
Sekarang Sasa punya jadwal: nangis tiap malem, rekam, edit dikit, upload pagi.
“Gue beneran nangis, kok. Bukan pura-pura. Gue mikirin mantan, mikirin hidup, mikirin masa depan. Air mata keluar beneran. Tapi setelah selesai nangis, gue edit, upload, dan besoknya gue cek views.”
Penghasilan? 40-50 juta per bulan dari endorse dan kreator dana.
“Lucu ya. Dulu gue nangis karena sedih, nggak dapet apa-apa. Sekarang nangis, dapet duit. Mungkin ini berkah dari kesedihan.”
Gue tanya: “Lo nggak takut jadi terlalu bergantung sama kesedihan?”
“Takut. Tapi gue mikir: daripada gue sedih diam-diam nggak dapet apa-apa, mending sedih sambil cuan. Tapi gue juga sadar, suatu saat gue harus bahagia. Tapi kalau bahagia, konten gue mati. Jadi… yaudah, sedih dulu aja.”
Momen jujur: “Kadang gue ngerasa aneh. Gue harus nyari alasan buat sedih tiap malem. Kalau nggak ada alasan, gue mikirin hal-hal sedih yang udah lewat. Atau nonton film sedih. Atau dengerin lagu galau. Pokoknya harus keluar air mata.”
Data point: Sasa punya 50-100 pesan DM tiap hari dari pengikut yang curhat. 70% cerita soal patah hati. 30% cerita soal depresi. “Mereka anggap gue tempat curhat. Padahal gue juga lagi nangis.”
Kasus #2: Tika (23, Mantan Sad Girl) — “Gue Berhenti Karena Sadar: Gue Lagi Jual Air Mata”
Tika dulunya juga kreator sad girl. Dua tahun lalu, dia viral dengan video “POV: lo lagi nangis di kamar kos sambil dengerin lagu galau”. Views 3 juta.
“Gue nikmatin banget masa-masa itu. Setiap malem gue nyari lagu sedih, nyari alesan buat nangis, lalu rekam. Orang pada iba. Dapet gift, dapet endorse, dapet perhatian.”
Tapi lama-lama, Tika sadar.
“Gue nggak bisa tidur kalau belum nangis. Beneran. Kayak ada kewajiban. Padahal kadang hari itu gue happy. Tapi karena butuh konten, gue paksa diri buat sedih. Gue nonton video sedih, baca cerita sedih, mikirin hal sedih. Pokoknya nangis.”
Suatu malam, Tika nangis beneran. Bukan buat konten. Tapi karena dia capek.
“Gue nangis histeris. Nggak direkam. Nggak ada kamera. Sendirian. Dan gue sadar: gue udah nggak bisa membedakan mana sedih beneran dan mana sedih konten. Dua-duanya jadi satu. Dan itu… serem.”
Tika memutuskan berhenti bikin konten sad girl.
“Sekarang gue bikin konten masak. Nggak viral sih. Penghasilan turun drastis. Tapi gue bisa tidur tanpa nangis dulu. Itu lebih berharga.”
Momen refleksi: “Jangan pernah jual kesedihan lo. Karena suatu saat lo bakal kehabisan stok, dan lo akan bingung: lo sedih karena apa, atau karena butuh konten?”
Statistik: Tika masih follow beberapa kreator sad girl. Dalam setahun terakhir, 3 dari 10 kreator yang dia kenal “berhenti mendadak” dan nggak pernah upload lagi. “Mungkin mereka sadar, atau mungkin mereka terlalu sedih buat konten.”
Kasus #3: Bu Rini (50, Psikolog) — “Ini Alarm Bahaya Buat Kesehatan Mental Generasi Muda”
Bu Rini udah 20 tahun praktik sebagai psikolog. Akhir-akhir ini, dia kebanjiran pasien Gen Z yang datang dengan keluhan unik.
“Mereka datang, bilang: ‘Bu, saya sedih terus. Tapi saya nggak tahu ini sedih beneran atau sedih karena saya harus bikin konten.’ Ada juga yang bilang: ‘Saya nggak bisa nangis lagi, padahal butuh buat konton.'”
Bu Rini khawatir.
“Ini fenomena yang nggak pernah terjadi sebelumnya. Orang memproduksi kesedihan. Bukan karena alami, tapi karena tuntutan konten. Ini bisa memicu depresi klinis, gangguan kecemasan, bahkan kehilangan identitas diri.”
Gue tanya: “Apa dampak jangka panjangnya?”
“Mereka akan kehilangan kemampuan membedakan emosi asli dan buatan. Semua emosi jadi blur. Mereka nggak tahu kapan mereka beneran bahagia, beneran sedih, atau cuma akting. Ini berbahaya untuk perkembangan mental.”
Bu Rini juga menyoroti penonton.
“Yang nonton juga terpengaruh. Mereka nonton video sedih tiap hari, jadi merasa bahwa sedih itu normal, bahwa depresi itu estetik. Mereka jadi nggak mencari pertolongan karena menganggap itu bagian dari gaya hidup.”
Pesan penting: “Kesedihan itu bukan gaya hidup. Itu kondisi mental yang butuh perhatian. Kalau lo merasa sedih berkepanjangan, cari bantuan profesional. Jangan jadikan konten.”
Statistik: Menurut catatan Bu Rini, dalam 2 tahun terakhir, pasien remaja dengan keluhan “overthinking dan sedih terus” naik 300%. 60% di antaranya adalah kreator konten aktif.
Kasus #4: Mas Anto (45, Pengamat Media Sosial) — “Ini Ekonomi Perhatian yang Ekstrem”
Mas Anto ngamati media sosial dari awal. Dia bilang, fenomena sad girl ini adalah puncak dari ekonomi perhatian.
“Di era media sosial, perhatian adalah mata uang. Semakin ekstrem konten lo, semakin banyak perhatian. Dan nggak ada yang lebih ekstrem daripada mempertontonkan emosi paling dalam: kesedihan.”
Gue tanya: “Kenapa kesedihan?”
“Karena kesedihan itu universal. Semua orang pernah ngalamin. Dan ketika lo nunjukkin kesedihan lo, orang merasa terhubung. Mereka merasa nggak sendiri. Itu ikatan emosional yang kuat. Dan ikatan itu menghasilkan engagement.”
Tapi Mas Anto juga lihat bahayanya.
“Ini menciptakan insentif untuk terus sedih. Algoritma ngasih reward buat konten sedih. Makin sedih, makin viral. Akhirnya kreator terperangkap dalam siklus: harus sedih biar dapet views, views bikin mereka sedih karena harus terus memproduksi kesedihan.”
Mas Anto punya prediksi:
“Suatu saat akan ada titik jenuh. Orang akan bosan liat orang nangis. Atau mungkin ada regulasi yang melarang eksploitasi emosi. Tapi sebelum itu, banyak kreator yang akan hancur mentalnya.”
Momen ironis: “Dulu orang bilang ‘artis nangis di TV itu akting’. Sekarang anak remaja nangis di TikTok, dan mereka sendiri bingung: ini akting apa beneran? Garisnya udah kabur.”
Data point: Analisis Mas Anto menunjukkan, konten dengan tagar #SadGirl punya engagement rate 3x lipat lebih tinggi dari konten biasa. “Algoritma suka air mata.”
Kenapa Fenomena Sad Girl Lifestyle Bisa Terjadi?
Dari obrolan sama mereka, gue dapet beberapa alasan:
1. Ekonomi Perhatian
Kesedihan jualan. Orang lebih peduli sama yang sedih daripada yang bahagia. Algoritma ngasih reward buat konten emosional. Maka, sedih jadi komoditas.
2. Kebutuhan Validasi
Banyak anak muda haus validasi. Dengan nunjukkin kesedihan, mereka dapet perhatian, dukungan, dan rasa “dipedulikan”. Itu candu.
3. Komunitas Penderita
Kesedihan menyatukan. Orang yang sedih merasa nggak sendiri kalau liat orang lain sedih juga. Ini menciptakan komunitas virtual yang kuat.
4. Estetisasi Depresi
Media sosial mengajarkan bahwa semuanya harus aesthetic. Termasuk nangis. Harus lighting bagus, angle pas, musik sendu. Depresi jadi… cantik.
5. Trauma Dijual
Banyak kreator yang punya trauma beneran. Mereka kemudian menjadikan trauma itu sebagai konten. Awalnya terapi, lama-lama jadi pekerjaan.
6. Kaburnya Batas Realita dan Konten
Mereka sendiri akhirnya nggak bisa membedakan mana sedih beneran dan mana sedih konten. Semua jadi satu: kehidupan adalah konten.
Tapi… Ini Dampaknya
Jangan salah paham. Ini bukan sekadar “anak zaman now lebay”. Ini serius:
1. Kesehatan Mental Terganggu
Memproduksi kesedihan terus-menerus bisa memicu depresi klinis. Otak nggak bisa membedakan mana yang “pura-pura” dan mana yang nyata.
2. Kehilangan Identitas
Mereka jadi nggak tahu siapa diri mereka di luar konten. Apakah mereka orang sedih? Atau orang yang pura-pura sedih? Garisnya hilang.
3. Ketergantungan pada Validasi Eksternal
Mereka butuh likes dan komentar buat ngerasa berharga. Kalau sepi, mereka makin sedih. Lingkaran setan.
4. Normalisasi Depresi
Depresi jadi dianggap biasa, bahkan keren. Akibatnya, orang yang beneran depresi nggak cari pertolongan karena merasa “ini gaya hidup”.
5. Eksploitasi Diri Sendiri
Mereka jadi mengeksploitasi emosi terdalam mereka buat konsumsi publik. Privasi hilang. Martabat terkikis.
Common Mistakes: Yang Sering Salah Soal Sad Girl Lifestyle
1. Mikir ini cuma tren biasa
Ini bukan tren biasa. Ini menyangkut kesehatan mental. Dampaknya bisa permanen.
2. Ngerasa bangga kalau konten galau viral
Bangga wajar, tapi jangan sampai lo kehilangan diri sendiri. Ingat: lo bukan konten lo.
3. Nggak bisa membedakan sedih konten dan sedih beneran
Kalau udah begini, saatnya berhenti. Konsultasi ke profesional.
4. Memaksa diri sedih buat konten
Ini bentuk kekerasan pada diri sendiri. Jangan lakuin.
5. Ngejudge yang nggak nangis
“Lo nggak sedih? Berarti lo nggak peka.” Nggak gitu juga. Orang bisa bahagia tanpa harus bersalah.
6. Lupa bahwa bahagia juga oke
Bahagia nggak kalah berharga dari sedih. Konten happy juga bisa viral. Coba aja.
Practical Tips: Buat Yang Lagi Terjebak Sad Girl Lifestyle
Buat lo yang sekarang mungkin ngerasa “kok gue malah makin sedih setelah bikin konten sedih?” Ini tipsnya:
1. Detoks dari konten sedih
Berhenti bikin konten sedih selama 1 minggu. Lihat perbedaannya. Lo mungkin ngerasa lebih ringan.
2. Coba konten beda
Bikin konten masak, jalan-jalan, atau hal random. Nggak perlu viral. Yang penting lo ngerasa lebih baik.
3. Batasi waktu di media sosial
Kurangi scroll, kurangi bandingin diri dengan kreator lain. Fokus ke diri sendiri.
4. Curhat ke orang beneran
Bukan ke followers. Ke temen, keluarga, atau psikolog. Curhat yang privat, bukan yang buat konsumsi publik.
5. Tanya diri sendiri: “Aku sedih karena apa?”
Kalau jawabannya “karena butuh konten”, itu alarm. Berhenti.
6. Cari bantuan profesional
Kalau lo ngerasa sedih terus, nggak bisa tidur, kehilangan minat, itu tanda depresi. Bukan konten. Cari psikolog.
7. Ingat: lo lebih dari konten lo
Nilai lo bukan dari views atau likes. Tapi dari siapa diri lo sebenarnya. Jangan sampe ilang di tengah gemerlap layar.
Kesimpulan: Antara Air Mata dan Like
Pulang dari ngobrol sama Sasa, Tika, Bu Rini, dan Mas Anto, gue duduk sambil mikir.
Gue inget dulu, pas kecil, kalau nangis, orang tua bilang: “Udah, jangan nangis. Nanti nggak cantik.” Sekarang? Nangis malah bikin cantik. Bikin cuan. Bikin terkenal.
Tapi di balik semua itu, ada harga yang dibayar. Ada jiwa yang terkikis. Ada batas yang kabur antara yang nyata dan yang maya.
Tika, mantan sad girl yang sekarang bikin konten masak, bilang sesuatu yang ngena:
“Dulu gue pikir, dengan nunjukkin kesedihan, gue dapet segalanya: uang, perhatian, validasi. Tapi gue kehilangan diri sendiri. Sekarang gue punya lebih sedikit, tapi gue tau siapa gue. Dan itu lebih berharga.”
Bu Rini nambahi:
“Kesedihan itu manusiawi. Tapi dia bukan untuk dijual. Dia untuk dirasakan, dipahami, lalu dilepaskan. Jangan ditahan, apalagi dijadiin konten.”
Mungkin itu pesannya. Jangan jual air mata lo. Karena suatu saat, lo bakal kehabisan. Dan lo akan bertanya: “Aku nangis karena apa?”
Dan jawabannya mungkin: “Karena aku lupa cara bahagia.”
Lo sendiri gimana? Pernah bikin konten galau? Atau malah ngerasa terjebak di sad girl lifestyle? Tulis di komen, gue baca satu-satu. Siapa tau dari cerita lo, yang lain bisa sadar sebelum terlalu dalam.