TOPIK UTAMA: [Investasi Terburuk 2026: Cerita Pilu mereka yang Terjebak 'Sustainable Living' Gaya Influencer

TOPIK UTAMA: [Investasi Terburuk 2026: Cerita Pilu mereka yang Terjebak ‘Sustainable Living’ Gaya Influencer

Lo Pikir Beli Tumbler Rp 800 Ribu Itu ‘Investasi’ Buat Bumi? Tunggu Dulu.

Gue lihat terus di timeline. Tempo hari beli reusable straw stainless yang dikemas dalam kotak kayu eksklusif. Minggu lalu, pakai sepatu sneaker berbahan “daun nanas” yang harganya setara gaji sebulan freelance. Semua dengan caption bangga: #SustainableLiving, #EcoWarrior. Tapi gue penasaran. Beneran, nggak sih, semua barang mahal itu bikin bumi lebih baik? Atau… cuma bikin dompet kita kosong dan sampah malah nambah?

Ada yang bilang ini investasi terburuk 2026. Karena ujung-ujungnya, kita cuma terjebak dalam lingkaran konsumerisme baru. Yang dijual bukan solusi, tapi rasa bersalah dan gengsi. Niatnya mau ikut tren gaya hidup sustainable, eh malah jadi korban jebakan sustainable living paling mahal.

Mereka yang Terjebak dalam “Eco-Guilt” dan “Greenhushing”

Ini cerita nyata. Nama disamarkan, tapi pilunya asli.

  1. Karin (27), Marketing Executive. Dia tergila-gila dengan estetika “slow living” ala influencer Eropa. Akhirnya, dia kredit mesin kopi manual high-end, grinder khusus, plus sekumpulan alat brewing dari keramik lokal artisan. Total Rp 15 juta. “Awalnya bilangnya biar nggak beli kopi sachet dan mengurangi sampah cup sekali pakai,” katanya. Tapi faktanya? Karena ribet, alat-alat itu lebih banyak jadi pajangan. Kopi sachet tetap dibeli, karena buru-buru kerja. Sekarang, dia punya utang dan setumpuk “sampah estetis” yang nggak dipakai. Sustainable lifestyle versinya cuma jadi beban.
  2. Rafi (23), Mahasiswa. Terpengaruh kampanye anti-fast fashion, dia bertekad hanya beli pakaian dari brand sustainable yang mahal. Sialnya, gaji part-time nggak mencukupi. Akhirnya, dia pakai pinjaman online buat beli satu hoodie katun organik seharga Rp 1,2 juta. “Pokoknya, saya nggak mau jadi bagian dari masalah,” ujarnya. Ironisnya, demi melunasi cicilan hoodie itu, dia justru kerja lembur dan jadi lebih sering pesan makanan pakai aplikasi—yang sampah plastiknya menumpuk. Lingkaran setan.
  3. Sari & Andi (early 30s), Pasangan Muda. Ingin mengurangi sampah dapur, mereka berlangganan katering makanan organik meal prep yang dikirim pakai kulkas box bagus. Rp 600 ribu per minggu. Sayangnya, jadwal kerja berantakan, makanan sering kedaluwarsa dan terbuang. “Kami menghasilkan lebih banyak sampah makanan daripada sebelumnya. Dan lebih mahal,” akui Andi. Mereka merasa gagal dua kali: gagal hidup ramah lingkungan, dan gagal mengelola keuangan.

Menurut survei digital 2025 oleh Greenwatch Indonesia, 68% responden Gen Z mengaku pernah membeli produk “hijau” yang lebih mahal dari alternatif biasa. Namun, 52% di antaranya mengakui produk itu tidak benar-benar mereka gunakan secara optimal, dan 41% merasa produk tersebut justru menambah beban keuangan. Itu alarm.

Kalau Mau Beneran, Bukan Cuma Ikut Trend: Lakukan Yang Sederhana

Mau beneran berkontribusi? Bukan lewat barang mahal. Tapi lewat hal-hal kecil yang konsisten.

  • Pakai Apa Yang Sudah Ada, Sampai Rusak Total. Prinsip utama gaya hidup sustainable sejati adalah reduce. Tumbler lama yang masih bagus, kenapa harus ganti? Tas belanja kain yang masih kuat, ngapain beli yang baru? Hindari godaan untuk “upgrade” hanya karena alasan tren.
  • Belajar Memperbaiki, Bukan Langsung Ganti. YouTube itu guru terbaik. Jangan langsung buang celana yang sobek atau blender yang macet. Coba perbaiki dulu. Itu jauh lebih “hijau” daripada beli barang baru yang klaimnya ramah lingkungan.
  • “Sustainable” itu Lokal, Bukan Import. Daripada beli granola kemasan eksklusif dari luar negeri, lebih baik beli sayuran dari petani lokal di pasar. Jejak karbonnya jauh lebih kecil. Dan uangnya mengalir ke ekonomi sekitar.
  • Tolak Dengan Tegas. Menolak sampah plastik sekali pakai itu lebih powerful daripada beli eco-bag desainer. Bilang “Nggak pakai sedotan, ya,” ke pelayan restoran. Itu gratis dan langsung berdampak.

Salah Kaprah Paling Fatal yang Bikin Lo Tersesat

Hindari banget pola pikir ini, nih.

  1. Mengira “Bahan Ramah Lingkungan” = Bebas Dosa. Bahan daur ulang atau biodegradable pun butuh proses produksi yang panjang. Sneaker “daun nanas” itu tetap harus dikirim dari seberang lautan. Jangan dibeli kalau nggak butuh-butuh amat. Prinsip reduce tetap nomor satu.
  2. Membeli Barang Baru untuk Menggantikan Barang Lama yang Masih Layak. Ini inti jebakan sustainable living. Lo buang tumbler plastik lama (yang jadi sampah) untuk beli tumbler stainless baru (yang produksinya juga ada dampaknya). Hitungan karbonnya malah bisa negatif. Tunggu sampai yang lama benar-benar rusak.
  3. Diam-diam Menghakimi Orang Lain. Gaya hidup “hijau” yang sejati itu inklusif, bukan eksklusif. Jangan menyombongkan diri atau menghakimi teman yang masih pakai plastik. Bisa jadi, dengan budget terbatas, mereka punya cara berkontribusi lain yang lebih meaningful.
  4. Terobsesi Pada Estetika, Bukan Fungsi. Dapur harus minimalis ala Scandi, peralatan harus warna earth tone. Kalau nggak cocok, nggak dibeli. Padahal, memanfaatkan panci bekas ibu atau meja warisan nenek itu jauh lebih sustainable daripada membeli set periuk baru yang “instagrammable”.

Kesimpulan: Sustainability yang Sebenarnya Ada di Pikiran, Bukan di Rak

Jadi, investasi terburuk 2026 itu bukan saham yang jatuh. Tapi mindset yang membiarkan kita dikapitalisasi oleh tren. Membeli ketenangan palsu dengan harga premium.

Sustainable lifestyle yang sesungguhnya itu sederhana, murah, dan seringkali nggak photogenic. Itu adalah mematikan lampu, mengurangi AC, membawa wadah sendiri, dan—yang paling sulit—melawan keinginan untuk membeli sesuatu yang baru hanya karena kita merasa itu akan membuat kita menjadi pribadi yang “lebih baik”.

Jangan biarkan gaya hidup sustainable jadi ajang gengsi baru. Karena bumi butuh aksi nyata yang konsisten, bukan konten yang kinclong. Mulai dari hal kecil yang beneran lo lakuin. Bukan yang cuma lo beli.